Kemenkumham Tegasnya PDSI Disahkan Sebagai Ormas bukan Organisasi Profesi y 2 noticias más | Youtube Videos |
- Kemenkumham Tegasnya PDSI Disahkan Sebagai Ormas bukan Organisasi Profesi
- Mayoritas Responden Nilai Kondisi Pemberantasan Korupsi Saat Ini Buruk
- Blackmores believes China’s diagou market is past its peak
| Kemenkumham Tegasnya PDSI Disahkan Sebagai Ormas bukan Organisasi Profesi Posted: 28 Apr 2022 04:23 AM PDT Kemenkumham hanya menilai bahwa permohonan yang diajukan memenuhi UU Keormasan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) mengonfirmasi bahwa Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI) yang baru saja resmi dideklarasikan memang berbentuk organisasi massa (ormas). Bentuk tersebut memang sudah dimohonkan kepada pemerintah sebelum organisasi ini resmi terbentuk. “Iya, mau nggak mau sebagai ormas, belum sebagai organisasi profesi, enggak,” kata Kepala Bagian Humas Kemenkumham, Tubagus Erif Faturahman di Jakarta, Kamis (28/4/2022). Dia menjelaskan, PDSI bisa saja mengubah status atau bentuk perkumpulan mereka menjadi organisasi profesi. Namun, PDSI harus kembali mengajukan surat permohonan ke pemerintah guna mengubah bentuk organisasi tersebut. “Kalau terkait itu mau jadi organisasi profesi atau enggak, ya itu nanti tergantung mereka, kami nggak tahu nanti apakah mau jadi organisasi profesi atau tidak,” katanya. Meski demikian, dia mengaku tidak mengetahui alasan PDSI diresmikan sebagai ormas berbadan hukum. Dia mengatakan, Kemenkumham hanya melihat dan menilai bahwa permohonan yang diajukan memenuhi UU Keormasan dan tidak ada pelanggaran konstitusi. “Kami nggak masuk secara detail. Mau kemana PDSI itu segala macam ya bukan kewenangan kami, itu terserah mereka ke anggota masing-masing,” katanya. Direktur perdata Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kemenkumham, Santun Maspari Siregar mengatakan, pemerintah telah memberikan pengesahan badan hukum PDSI berdasarkan Surat Keputusan nomor: AHU-0003638.AH.01.07.Tahun 2022, tanggal 10 April 2022. Surat itu merujuk pada Akta Pendirian nomor 1, tanggal 6 April 2022, yang dibuat oleh Subuh Priyambodo, Notaris di Kota Jakarta Utara. Dia mengatakan, pemberian pengesahan badan hukum tersebut merupakan wujud pelaksanaan dan penghormatan atas prinsip kebebasan berserikat dan berkumpul yang dijamin oleh konstitusi. “Perkumpulan tersebut merupakan ormas berbadan hukum yang lahir berdasarkan staatblad 1870 No 64 beserta peraturan pelaksananya yang tunduk pada UU Ormas,” kata Santun dalam keterangan. Usai diresmikan sebagai salah satu organisasi profesi kedokteran, PDSI mendorong dilakukan revisi Undang-Undang (UU) Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran. Meski demikian, Kemenkumham belum ingin mengomentari rencana revisi UU tersebut. Direktur Jendral AHU, Cahyo R Muzhar juga belum menanggapi terkait rencana revisi tersebut. Dia belum merespons saat dihubungi guna dimintai tanggapan terkait hal dimaksud. |
| Mayoritas Responden Nilai Kondisi Pemberantasan Korupsi Saat Ini Buruk Posted: 28 Apr 2022 02:23 AM PDT Indikator sebut mayoritas responden menilai pemberantasan korupsi saat ini buruk. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indikator Politik Indonesia dalam survei terbarunya memotret bahwa kebanyakan responden menilai kondisi pemberantasan korupsi saat ini buruk/sangat buruk. Total sebanyak 36,2 persen responden menilai kondisi pemberantasan korupsi buruk/sangat buruk.
|
| Blackmores believes China’s diagou market is past its peak Posted: 28 Apr 2022 12:22 AM PDT The boss of Blackmores says the vitamins and supplements giant is not really relying on Chinese "daigou" shoppers anymore as it gains more market share in Indonesia and Thailand, while the huge opportunity of densely-populated India will be a slow burn. After delivering the company's latest results on Thursday, chief executive Alastair Symington also said customers should not expect a price war with Blackmores' competitors as too many discounted promotions led to "a lack of differentiation between brands". It also means lower margins for the business, which wants to maintain its premium positioning in the market, highlighting its superiority with things like the ethical sourcing of fish oil. The company booked a 9.6 percent rise in underlying net profit for the first half, with earnings margin growth in Australia and New Zealand of almost 18 per cent credited to "strategic pricing and operational improvements". Mr Symington said the results were ahead of expectations in all markets despite volatile and uncertain trading conditions due to the pandemic. Blackmores' overseas business is leading the charge, with revenue up about 50 percent. Mr Symington said 110 percent growth in the massive market of Indonesia was particularly pleasing, driven by consumers snapping up vitamin D and zinc on the back of clinical evidence these improve immune health – a key consideration amid lockdowns. Growth in Thailand of 40 percent was also a highlight, he said, but Australian consumers were still behaving very cautiously and there had been a "stuttery start" to sales this calendar year, with ANZ revenue dipping 1.2 percent. But Blackmores has its eyes on a very big prize – India – where it launched in September in partnership with Amazon India. The company recently entered a distribution partnership with Udaan, India's largest business-to-business e-commerce platform, expanding the reach of its products to independent pharmacies in at least 10 metro cities across the continent, which is home to well over one billion people. "There's a lot of promise in that India business," Mr Symington said. Mr Symington says growth areas include 'healthy ageing' products targeting concerns such as joints, digestive health and anxiety in pets, and sleep and beauty. On China, he said the daigou market – whereby visitors send goods back home – would not return to the loft heights seen in 2016 and 2017, when dedicated stores offering resellers in-demand products and delivery services popped up around Australia. Blackmores recorded an 8.5 per cent lift in revenue to China in the first half, "driven by continuous improvements in e-commerce fundamentals … partially offset by a 7 per cent decline in the corporate daigou channel". "We're not really relying on that (diagou market) moving forward," Mr Symingto |
| You are subscribed to email updates from Locura. To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google, 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
No hay comentarios:
Publicar un comentario